5 Kesalahan dalam Memilih Kemasan Bungkus Kopi

Tingginya minat orang-orang mengonsumsi kopi berdampak positif bagi para pelaku usaha. Bisnis-bisnis kopi menjamur dimana-mana. Bila serius menjalankannya, keuntungan dari bisnis Ini sangat menggiurkan. Namun tentu tidak terlepas dari yang namanya persaingan. Tinggal pintar-pintar kita memilih biji kopi dengan kualitas terbaik serta kemasan bungkus kopi yang lain daripada kompetitor lainnya.

Berdasarkan riset global “The International Coffee Organization”, setiap tahun tingkat konsumsi kopi meningkat 10%. Pertambahan tersebut menandakan bahwa penikmat kopi semakin banyak. Secangkir kopi seolah telah menjadi sebuah keharusan dalam menu sarapan pagi atau sore hari.

Kesalahan dalam Memilih Kemasan Bungkus Kopi

Perihal kemasan bungkus kopi, tampaknya ini jadi sesuatu yang gampang-gampang susah di kalangan pebisnis. Sebab, salah pilih justru dapat berakibat buruk pada brand produk kopi Anda. Selain produk sulit laku, kualitas kopi di dalamnya pun tidak terjaga dengan baik.

Agar yang demikian itu tidak menimpa bisnis kopi Anda, berusahalah untuk tidak melakukan sejumlah kesalahan-kesalahan berikut ini ketika memilih kemasan produk kopi.

1. Hanya Mementingkan Desain Luar

Tampilan luar kemasan bungkus kopi tak ubahnya wajah kita yang sedapat mungkin harus terlihat cantik. Selain alasan kebutuhan, konsumen membeli sebuah produk karena tertarik pada kemasannya. Kemasan yang bagus memang mudah mempengaruhi pikiran konsumen untuk segera memilikinya. Suatu hal yang wajar karena tidak mungkin semua produk menyediakan sample untuk dicoba lebih dulu, bukan?

Strategi ini memang dapat dilakukan kalau tujuannya hanya ingin membuat konsumen tertarik pada pandangan pertama. Namun, belum tentu bisa membuat mereka menjadi pelanggan tetap. Tidak sedikit konsumen yang teperdaya hanya karena tampilan kemasan bungkus kopi tampak begitu apik. Tapi begitu mengonsumsi isinya justru mereka tidak terkesan sama sekali dan membuat mereka jera repurchase.

Sah-sah saja menciptakan sebuah konsep yang bagus untuk kemasan produk kopimu. Namun jangan sampai mengesampingkan aspek-aspek lain yang tak kalah penting. Semisal ketahanan produk, ukuran, bahan kemasan, dan lain sebagainya.

2. Bahan Kemasan Tidak Ideal dengan Jenis Kopi

Kemasan bungkus kopi bisa terbuat dari beberapa macam seperti kemasan plastik kopi, aluminium foil doft, standin pouch craft alu, kain, hingga canister/kaleng. Walau tersedia banyak opsi, namun tujuan dari pemakaian salah satu bahan tersebut harus jelas. Seberapa efektif dan efisienkan bahan tersebut untuk mengemas kopimu?  

Demi menunjang estetika sebuah produk, menekan biaya produksi atau bahkan niat tampil beda dari produk kompetitor, terkadang produsen memilih bahan kemasan kopi yang tidak terlalu familiar. Contohnya goni. Goni termasuk jenis bahan kemas yang berbahan kain. Susunan seratnya tidak rapat hingga menyisakan lubang-lubang sebagai jalur sirkulasi udara.

Dari segi tampilan memang benar bikin produk kopimu jadi kelihatan aesthetic ketimbang kemasan kopi pada umumnya yang menggunakan plastik. Tetapi, kain bukan “kemasan” yang cukup aman untuk kopi dalam jangka waktu panjang. Oksigen dapat masuk melalui sela-sela sempit serat goni. Kopi telah teroksidasi oleh oksigen sudah pasti mengalami penurunan mutu rasa maupun aroma.

Penggunaan kemasan goni tetap memungkinkan asal kita bisa memastikan kopi tidak tersimpan lama dan takaran isinya hanya cukup untuk 2-3 cangkir saji saja (membantu mempercepat kopi habis setelah kemasan dibuka).

Lain lagi dengan kemasan canister. Ini tergolong kemasan yang mewah untuk kopi. Target marketnya kalangan tertentu lantaran harga jualnya yang mahal. Tetapi sebagus-bagusnya tampilan kemasan canister, tetap kurang ideal untuk menyimpan kopi dalam jangka waktu lama.

3. Kemasan Kopi One way valve

Kopi memang membutuhkan wadah penyimpanan yang kedap udara. Namun, ketahuilah bahwa kopi yang telah melewati tahap roasting pasti mengeluarkan CO2 setelahnya bahkan setelah mengemasnya. CO2 yang terjebak di dalam kemasan bisa jadi bumerang bagi kopi itu sendiri sehingga kualitasnya jadi rusak.

So far plastik lebih ideal untuk kemasan bungkus kopi. Kerapatannya terjaga dengan baik, tak gampang tertembus oksigen, air, atau molekul-molekul tak berguna lainnya. Mudah dimodifikasi dalam aneka bentuk dan memungkinkan kita menambah fitur-fitur canggih yang berguna untuk menjamin kelayakan mutu kopi. Salah satunya seperti fitur one way vale.

Kemasan Kopi One way valve merupakan fitur berupa sirkulasi satu arah yang terdapat pada kemasan kopi. Katup ini membebaskan CO2 dari dalam ke luar. Karena sifatnya hanya satu arah, maka oksigen dari luar tidak bisa masuk dan mencemari kopi.

4. Size Kemasan Bungkus Kopi Tidak Sesuai dengan Isi

Salah memilih size kemasan untuk memuat kopi juga kerap terjadi. Idealnya, kemasan harus menyisakan sedikit ruang kosong. Adapun tujuannya:

  • Sebagai ruang untuk CO2 yang terjebak di dalam kemasan. Terutama untuk kemasan yang belum dilengkapi one way valve. CO2 yang terperangkap di dalam kemasan lambat laun akan membuat kemasan menggelembung dan rawan meletus/bocor. Itu mengapa terkadang kopi-kopi kemasan mesti ditusuk dahulu sebelum berada di rak display. Lubang tusukan bertujuan agar CO2 dapat keluar. Hanya saja, di sisi lain oksigen jadi ikut masuk dan merusak kualitas kopi tanpa kita sadari.
  • Agar kemasan mudah dibuka dan tutup. Kemasan yang terlalu padat akan membuat isi berceceran ketika pertama kali Kita membukanya. Begitu pula untuk menutupnya kembali ketika isinya tidak habis dalam satu kali pemakaian.

Dua tujuan di atas boleh diabaikan apabila sistem pengemasannya berupa kemasan vacuum. Dalam hal ini semua molekul gas telah terhisap oleh mesin vacuum. Juga, tak memberi ruang bagi kopi untuk mengeluarkan CO2. Hanya saja, kemasan vacuum bukan pilihan tepat untuk kopi bubuk.

5. Menggunakan Kemasan yang Terlalu Berisiko  

Kemasan kopi juga ada yang terbuat dari toples kaca. Ini pun tergolong kemasan yang mewah dan tidak dipasarkan sembarang tempat. Namun terlalu berisiko karena sifat kaca yang rentan pecah dan membahayakan. Dari segi bobot pun lebih berat daripada bahan lainnya. Semua itu akan menyulitkan Anda dalam aktivitas distribusinya kelak. Apalagi untuk pengiriman jarang jauh, it’s not recommended!

6. Tidak Punya Ciri Khas  

Faktor lain yang menyebabkan produk kopi kurang laku adalah ketiadaan ciri khas. Anda terlalu asyik menggonta-ganti desain kemasan dalam waktu cepat sehingga menyulitkan konsumen untuk mengingatnya. Ada juga yang memilih meniru desain kemasan kopi yang sudah ada sebelumnya. Alih-alih menarik pembeli, yang ada justru membuat konsumen merasa produkmu tiruan.

Matangkanlah konsep kemasannya terlebih dahulu sebelum dipasarkan. Siapkan sebuah icon yang akan jadi ciri khas untuk produk kopimu. Sebuah gerai kopi ternama menggunakan icon puteri duyung berekor ganda atau dalam mitologi Yunani bernama Siren. Hanya dengan melihat icon Siren itu saja orang sudah bisa menebak merk kopi tersebut. Seperti itulah kiranya sebuah konsep yang punya ciri khas.  

Demikianlah daftar kesalahan dalam memilih kemasan bungkus kopi yang kadang luput dari pemikiran pelaku bisnis kopi. Lakukan evaluasi secara berkala dan jangan ragu untuk memperbaikinya. Bisnis apapun yang digarap serius niscaya akan mendatangkan kemujuran.

Tinggalkan komentar