Begini Cara Membaca Nutrition Facts, Jangan Sampai Salah!

Nutrition facts selalu kita lihat di kemasan pangan yang kita beli.  Dari sudut pandang pelaku usaha, informasi nilai gizi ini menjadi bentuk kejujuran ketika menjual produk. Di sisi lain, konsumen akan lebih mudah memutuskan produk mana yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Penulisan nutrition facts tidak boleh sembarangan, karena untuk membuktikan kandungan dalam suatu produk dibutuhkan uji laboratorium. Jadi pelaku usaha tidak bisa hanya mengandalkan asumsi saja. Pihak BPOM pasti meminta hasil analisa lab ketika melakukan audit.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, informasi nilai gizi

Kemasan yang Ideal

Selain nutrition facts, kemasan yang ideal menurut kementerian kesehatan terdiri dari berbagai hal ini:

Merek dagang

Ya, dengan mengetahui siap perusahaan yang mengeluarkan produk ini, tentu konsumen akan lebih tenang ketika membeli.

Nama produk

Mau jualan tapi gak punya nama produk? Bisa-bisa kesaing nih! Nama produk adalah identitas usahamu, jadi jangan lupa dicantumkan ya.

Komposisi bahan

Takut kalau mencantumkan daftar bahan, produkmu bakalan diplagiasi? Gak usah takut, karena pencantumannya enggak sedetail itu. Lagi pula, kamu tidak perlu menuliskan cara membuatnya kok. Komposisi bahan dimunculkan agar konsumen bisa memilih bahan yang sekiranya perlu dihindari.

Berat/Isi

Jujur terhadap berat produk adalah langkah pertama yang harus kamu lakukan ketika memulai usaha. Kalau berbohong, justru konsumen akan sulit untuk percaya.

Keterangan halal

Memang sih MUI tidak melarang produk yang tidak memiliki halal itu tidak boleh beredar. Akan tetapi, masyarakat Indonesia sedang sensitif soal kandungan bahan halal dan non halal nih. Jadi agar usahamu cepat maju dan berkembang, segeralah urus izin halal MUI.

Informasi nilai gizi atau Nutrition Facts

Produsen pangan olahan tidak boleh berbohong tentang kandungan gizi dalam pangan yang diproduksi. Untuk mengantisipasi batasan konsumsi yang sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG), maka kementerian kesehatan bersama lembaga terkait lainnya mewajibkan produk pangan berskala kecil hingga industri.

Nama dan alamat yang Memproduksi

Hitung-hitung promosi, kamu juga harus memberikan keterangan di mana produk olahan tersebut diproduksi dan dikemas.

Keterangan Kedaluwarsa

Jika konsumen membeli makananmu dalam keadaan basi, ada dua kerugian yang akan kamu tanggung: pertama bisa jadi konsumen akan menolak membeli produkmu lagi, kedua makanan basi bisa menyebabkan keracunan yang artinya kamu selaku produsen bisa dituntut secara hukum.

Kementerian kesehatan dan juga BPOM melarangan pangan olahan kedaluwarsa untuk dijual. Selain tidak higienis, potensi untuk menyebarkan penyakit akan lebih besar. Pastikan penulisan tanggal minimal 10% sebelum tanggal yang sebenarnya. Jadi kalau kedaluwarsamu tanggal 30, lebih baik tulis tanggal 27 di kemasan.

Izin Edar

Izin edar adalah serangkaian bukti kalau panganmu terdaftar dan layak diedarkan di seluruh daerah di Indonesia. Selain itu, izin edar menjadi jaminan bahwa produk yang kamu buat tidak mengandung bahan-bahan berbahaya.

Cara Membaca Nutrition Facts

Jika di atas sudah dibahas terkait informasi dalam kemasan yang perlu dicantumkan, kali ini kita akan membahas cara membaca nutrition facts yang tepat. Banyak sekali konsumen yang abai dengan angka-angka tersebut. Padahal informasi nilai gizi akan membantu menentukan jumlah asupan yang tidka berlebih dalam sehari.

Kementerian kesehatan dan juga lembaga kesehatan dunia telah menetapkan poin-poin apa saja yang perlu dan harus dicantumkan dalam nutrition facts. Informasi ini akan berguna juga untuk pelaku usaha yang berencana memasukkan produknya untuk uji lab.

Berikut keterangan yang perlu dicantumkan

  1. Takaran Saji
  2. Jumlah sajian per kemasan
  3. Energi total
  4. Energi dari lemak
  5. Lemak total: termasuk juka lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol
  6. Protein
  7. Karbohidrat total: termasuk serat pangan dan juga kandungan gula
  8. Natrium
  9. Kalium
  10. Kalsium
  11. Fosfor
  12. Magnesium
  13. Zat besi

Sebelum tahun 2019, nutrition fact juga wajib mencantumkan kandungan vitamin dalam pangan olahan. Namun aturan tersebut dihapus karena diasumsikan masyarakat era sekarang sangat jarang kekurangan vitamin dalam tubuh.

Agar lebih jelas, mari kita bedah satu-persatu maksud keterangan tersebut ditampilkan:

  1. Menurut kementerian kesehatan, umumnya infromasi nilai gizi atau nutrition facts suatu produk berdasarkan pada satu kali penyajian. Jika mengkonsumsi produk tersebut lebih dari satu kali penyajian, maka kontribusi jumlah asupan kalori dan semua nutrisi yang ada dalam produk tersebut akan lebih tinggi.
  2. Kandungan lemak yang dimaksud salam kemasan hanya untuk satu kali penyajian saja.
  3. Angka Kecukupan Gizi (AKG) memberikan informasi kontribusi produk tersebut terhadap kebutuhan sehari. Misalkan persen AKG  menunjukan nilai 20%, maka kebutuhan nutrisi tersebut sudah terpenuhi 20% bila dikonsumsi sesuai takaran saji. AKG akan ditampilkan di pojok paling kanan setelah penulisan kandungan, dan ditulis dalam satuan persen.
  4. Kandungan gula yang dimaksud juga dalam satu kali penyajian. Begitu pula dengan kandungan nutirum.
  5. Informasi nilai gizi biasanya juga menyertakan standar persen AKG kebutuhan energi yang perlu dipenuhi oleh satu individu.

Nah di atas adalah pembahasan cara membaca nutrition facts atau informasi nilai gizi secara mudah. Jangan keliru lagi ya! Jangan lupa untuk menyamakan kandungan gizi dengan angka kecukupan gizi. AKG adalah acuan kebutuhan gizi tiap individu.

    Anda ingin Konsultasi tentang Sertifikasi PIRT, BPOM, Halal?

    Silakan isi formulir berikut

    Senin - Jumat : Pkl. 08:00 - 16:00
    Sabtu : Pkl. 08:00 - 13:00
    Minggu/ Libur Nasional : Tutup

    Tinggalkan komentar